Sejarah Rumah Sokola

Sokola adalah sebuah lembaga independen yang memfokuskan diri untuk memfasilitasi sebuah pendidikan alternatif dengan masyarakat pribumi yang ada di Indonesia. Kebanyakan dari masyarakat ini hidup dengan menggantungkan diri pada hasil alam atau hasil laut dan memiliki keterbatasan untuk mengakses pendidikan yang diberikan oleh pemerintah disebabkan oleh nilai-nilai kultural, lokasi yang terisolir maupun sedang berada dalam kondisi krisis. Dalam bahasa Rimba, Sokola berarti sekolah atau belajar dan dapat juga berarti pendidikan.

Sokola didirikan oleh enam orang yang pada awalnya bekerja untuk sebuah lembaga konservasi bernama WARSI dan sebagai bagian dari proyek “Habitat dan Manajemen Sumber Daya Alam untuk Orang Rimba” di Taman Nasional Bukit Duabelas di Jambi. Orang Rimba adalah masyarakat yang hidup sangat berpindah-pindah di dalam hutan hujan dan hidup dengan cara berburu di hutan, menggali umbi-umbian dan pertanian sederhana. Mereka hidup dengan kebiasaan tradisional serta kepercayaan yang diturunkan dari nenek moyang.

Berdasarkan keyakinan mereka, jalan hidup ini tergantung kepada bagaimana menjaga kemurnian dari kebiasaan mereka dan melindunginya dari dunia luar. Hal ini menjadi semakin sulit sekarang. Selama 30 tahun belakangan ini, hutan dan cara hidup tradisional mereka mendapat banyak tekanan, mulai dari pembalakan hutan, transmigrasi, dan juga pembukaan hutan untuk lahan pohon kelapa sawit. Dari tahun 1998 sampai 2004, anggota Sokola tergabung dalam menyediakan basis pendidikan untuk komunitas Orang Rimba, mencakup penyediaan layanan kesehatan, hukum, advokasi, untuk mendukung tujuan WARSI tentang konservasi hutan.

Memasuki tahun kelima dari proyek yang dilakukan WARSI, banyak Orang Rimba terutama para murid yang bertanya ada hubungan dari pendidikan dan bagaimana melanjutkan hidup mereka di hutan.

Banyak diantara mereka yang berpikir, “Tentu, sekarang kami bisa menulis, membaca dan berhitung dari tetap saja hutan kami ditebangi secara liar. Apa hubungan antara pendidikan dan bagaimana cara hidup kami di hutan serta bagaimana itu bisa membantu kami untuk menghadapi pembalakan hutan serta menjamin nilai-nila tradisional dan kultural untuk generasi selanjutnya”.

Untuk Orang Rimba, pembalakan dan juga pengrusakan hutan, tidak hanya mengancam sektor ekonomi mereka tetapi juga berpengaruh kepada nilai sosial dan nilai religi serta kultur mereka sebagai orang hutan.

Didasarkan kepedulian inilah yang membuat keenam orang ini mengundurkan diri pada tahun 2003 dari WARSI untuk membangun SOKOLA sebagai upaya untuk lebih fokus terkait pendidikan alternatif dengan komunitas Orang Rimba dan juga masyarakat tradisional lainnya yang memiliki tantangan serupa. Pada tanggal 13 April 2007 resmi terdaftar, dan memulai untuk membuat suatu konsep, metode, dan kurikulum untuk menyediakan pendidikan alternatif dengan bantuan praktisi pendidikan, sambil melanjutkan untuk memberikan pendidikan alternatif untuk Orang Rimba di hutan Bukit Duabelas.

Sokola menyediakan pendidikan dasar (menulis, membaca, berhitung) yang berhubungan dengan pengetahuan dunia luar, hukum, juga kebijakan-kebijakan pemerintah yang berdampak kepada cara hidup mereka di hutan. Tambahan pengetahuan ini membuat komunitas Orang Rimba mengerti dan membuat keputusan untuk menyikapi tantangan dari dunia luar, berdasarkan konteks, kebiasaan, dan juga tradisi hidup mereka.

Tidak ketinggalan pula mereka diajarkan bagaimana berhubungan dan bertemu dengan ketertarikan orang-orang di luar komunitas Orang Rimba, para pembuat keputusan, aktivis, serta media, jadi suara Orang Rimba juga didengar dan berperan dalam menentukan apa yang terjadi pada hidup mereka. Tujuan jangka panjang yang diharapkan adalah Sokola bisa menjadi tempat untu pembelajaran komunitas, untuk Orang Rimba dan juga masyarakat pribumi lainnya di Indonesia. Kami berharap bisa menciptakan sebuah lingkungan yang memicu pemahaman kritis dari dunia, bisa menyediakan solusi bagi masyarakat pribumi bagaimana menghadapai tantangan yang mereka hadapi. Hal ini bisa memberikan pengertian kepada mereka bagaimana mengantisipasi perubahan dan membuat mereka merespon dengan tetap mempertahankan konteks serta kebiasaan hidup mereka.

Sejak memulai Sekolah Rimba dengan Orang Rimba di Sumatra, Sokola telah memperluas programnya kepada komunitas pribumi lainnya di Indonesia yang menghadapi tantangan atau sedang berada dalam keadaan darurat yang disebabkan oleh bencana alam (gempa bumi, banjir bandang). Sokola juga bekerja dengan masyarakat pinggiran yang termasuk dalam kelas miskin dan anak-anak jalanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s