Ayo ke “Ruma Sokola”! (1)

Tulisan ini adalah salinan dari artikel lama yang ditulis Dwi Agustriani di Portal Panyingkul. Kami menyuguhkan kembali untuk anda mengenal kembali bagaimana Ruma Sokola atau Sekolah Pesisir tahun 2006. Tulisan ini kami pecah menjadi 2 bagian. Selamat membaca.

***

Citizen reporter Dwiagustriani menelusuri kehidupan anak-anak di kawasan kumuh di Kelurahan Lette dan Kampung Buyang, Makassar. Sekolah alternatif yang disebut Ruma Sokola didirikan dua tahun lalu oleh sejumlah relawan untuk menampung anak-anak putus sekolah di kawasan yang bersebelahan dengan salah satu perumahan termewah di Makassar itu. Namun, masih banyak anak yang memilih mencari nafkah dari pada belajar di Ruma Sokola.(p!)

***

Tahun ajaran baru telah dimulai 18 Juli lalu. Liburan telah usai. Suasana pagi kembali diramaikan oleh anak-anak dengan seragam dan perlengkapan belajar –yang biasanya juga serba baru. Namun, akan halnya Jumiatia, Basir, Lina, Indah, dan sejumlah anak-anak lainnya yang tinggal di Kelurahan Lette, Makassar, awal tahun ajaran baru tidak berarti harus berangkat ke sekolah. Mereka justru lebih memilih bermain di sebuah rumah panggung yang terletak di sisi kiri Jalan Metro Tanjung Bunga.

Murid dan guru Ruma Sokola. Foto : istimewa

Di suatu hari di akhir bulan Juli, saya menghabiskan waktu bersama lima belas anak kecil berusia lima hingga empat belas tahun di rumah panggung itu. Mereka berlarian di kolong rumah yang tampak masih baru itu. Bangunan rumah panggung itu belumlah rampung sepenuhnya. Lantai papan baru dipasang sehari sebelumnya. Suara kanak-kanak pun riuh rendah membelah siang yang panas.

Sesekali mereka tampak berkejar-kejaran di atas papan itu. Mungkin untuk mengakrabkan kaki-kaki mereka pada lantai baru. Masing-masing memegang sapu, kain pel, dan ember.

Jumat siang itu, mereka sangat tekun bekerja bakti membersihkan rumah panggung. Sampah-sampah bekas gergaji kemarin, dipungut kemudian dibakar. Kaca-kaca jendela dilap hingga bersih. Tak lupa pula bekas coretan kapur karya mereka di dinding rumah., ikut dibersihkan. Mereka bahkan berebut mengepel lantai. Air bercipratan dan menggenang, membasahi hampir separuh lantai papan itu.

“Sudah-sudah. Ngepelnya diselesaikan,” teriak Rida, relawan yang bertugas siang itu. Teriakan itu tidak mereka gubris hingga sang guru harus membuang air bekas pel itu.

“Sekarang membersihkannya selesai. Ayo baris di belakang Kak Rida,” katanya lagi yang disambut oleh wajah riang anak-anak itu. Mereka dengan senang berdiri di belakang perempuan berusia 25 tahun itu. Sambil memegangi pinggang temannya, mereka membentuk sebuah barisan ular. Berjalan sambil berdendang:

Naik kereta api tut…tut…tut….

Tekun, meski tanpa meja dan kursi. Foto : istimewa.

“Nah, sekarang naik ke rumah. Sandalnya dilepas di tangga. Ikuti kak Rida. Kak Rida duluan. Tak ada yang boleh mendahului”.

Anak-anak pun mengikuti gerak-gerik gurunya. Namun akhirnya mereka tetap saja saling berebut mendahului. Suara kaki kecil mereka bergemuruh menginjak anak tangga.

Rumah itu berukuran lima kali enam meter. Di teras depannya tergantung sebuah tulisan “SOKOLA” yang terbuat dari tempelan-tempelan ubin. Saat memasuki pintu, kita pun mendapati pajangan mozaik dari pecahan ubin, yang bergambar perahu. Karakter Mickey Mouse, lukisan pemandangan, hingga mozaik bertuliskan Slank memenuhi dinding itu.
Mozaik itu merupakan hasil karya anak-anak dan pengajar. Mereka menamainya “Marmoz”., singkatan dari Mariso Mozaik. Mariso adalah nama sebutan lainnya bagi kawasan ini, yang secara administarif merupakan salah satu nama kecamatan di wilayah Kotamadya Makassar.

Foto-foto ketika mereka belajar dan saat penamatan siswa tahun pertama terpampang di samping mozaik-mozaik itu. Di balik dinding tempat mozaik itu terpajang, terdapat satu ruangan yang memisahkannya dengan ruang utama. Di pintunya tertulis “Kantor Sokola”.

Di dalamnya bertumpuk karpet susun bercorak angka dan huruf. Ada pula sekotak kertas bekas. Juga terlihat permainan puzzle kotak untuk menyusun bentuk. Jejeran Alquran dan buku catatan bacaan Iqra tersusun rapi di sebuah rak buku. Gulungan kain bercorak kotak-kotak biru yang merupakan bahan untuk seragam para siswa, bersandar di sudut ruangan.
Di dinding depan ruang kantor terpasang karton manila putih yang dipenuhi kertas gambar, puisi dan jadwal membersihkan. Di bagian atasnya tertulis “Mading Sekolah Pesisir”. Sejajar ke bawah terdapat sebuah papan tulis berukuran 120 cm x 60 cm.

Di sisi lain dinding rumah itu terdapat empat rak buku yang menggantung. Komik Jepang dari serial anak, remaja hingga misteri, tertata rapi di salah satu rak. Buku-buku mewarnai yang penuh dengan coretan crayon juga tersusun rapi. Majalah Bobo dan Donal Bebek dengan sampul yang mulai kucel dan beberapa bagiannya terlepas tak ketinggalan mengisi rak-rak buku itu.

“Kalau sudah tahu ambil buku, harus tahu bagaimana merapikannya,” ujar Rida setiap kali anak-anak membaca buku dan tak merapikannya.

Acara kerja bakti hari itu selesai 30 menit sebelum azan Jumat berkumandang. Kegiatan dilanjutkan dengan membuat hasta karya.

Anak-anak mengambil berlembar-lembar kertas bekas menggambar. Seorang relawan lainnya bernama Pitte, memberi petunjuk pada anak-anak untuk mengelem kertas-kertas itu hingga menjadi sebuah kertas persegi raksasa. Nantinya akan dibuat menjadi origami raksasa.

Tawa berderai sesekali keluar dari mulut mungil anak-anak ketika merangkai kertas origami. Sesekali mereka saling berebutan kertas yang kadang membuat temannya marah hingga menangis.

Raut serius pun terlukis di wajah-wajah polos itu. Tekun mereka mengelem rangkaian kertas yang kian membesar.

“Kak…ini buku,” kata seorang bocah laki-laki sambil mengambil kertas yang disebutnya buku.

“Ini kertas. Bukan buku. Buku itu kalau banyak kertasnya dan terjilid,” terang gurunya.

Tangan-tangan kecil itu sesekali berhenti bekerja. Lem fox yang mulai mengering di jari-jari mereka dengan asyik dicabuti.

“Kotor ki. Mau ka cuci ki”, kata salah seorang anak.

“Iya. Tapi kalau sudah pulang ya. Di sini tidak ada air,” jelas Susi, salah seorang guru relawan lainnya.

“Itu ada,” kata sang bocah sambil menunjukkan genangan air yang mengitari rumah itu.

Genangan itu ditutupi sampah plastik mi instan dan makanan ringan, bekas deterjen, sabun colek, bungkus sabun mandi, dan sandal-sandal yang talinya telah putus.

“Jangan di situ. Itu kotor.”

Namun, anak-anak itu tidak tahan. Lem yang melengket di jari-jari mereka mungkin terasa mengganggu. Tanpa mengindahkan nasehat gurunya, mereka tetap membasahi tangan mereka di genangan air itu.

“Aduh. Kakak sudah bilang jangan cuci di situ. Ya, sudah. Pulang saja. Hasil karyanya Senin nanti baru kita lihat.”

Tanpa dikomando anak-anak itu membereskan hasil kerjanya. Tak lupa mencium tangan guru-gurnya, sebelum beranjak pulang.

One thought on “Ayo ke “Ruma Sokola”! (1)

  1. Pingback: Ayo ke “Ruma Sokola”! (2) | Sekolah Pesisir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s