Catatan: Tentang Relawan

Mengapa banyak orang orang yang terkagum-kagum melihat kita? Seolah-olah kita telah melakukan hal yang sangat luar biasa, padahal kita berkegiatan biasa-biasa saja. Memangnya apa yang telah kita lakukan? Lalu, mengapa mereka menganggap yang kita lakukan ini hal yang luar biasa? Dan mengapa mereka sangat senang mendengar cerita dari kita?

Pertanyaan beruntun ini muncul dari mulut Umar, seorang peserta didik dari Sekolah Pesisir. Hari itu kami mendapat kunjungan dari seorang teman. Ya,, kunjungan dari teman atau komunitas lain adalah motifasi tersendiri bagi keberlangsungan belajar mengajar di Sekolah Pesisir. Umar yang sekarang ini menjadi kader pengajar di Sekolah Pesisir tidak sadar bahwa dirinya adalah salah satu orang yang memilki kesempatan spesial. Kesempatan spesial karena ada lembaga pendidikan alternative yang berdiri di sekitar pemukimannya. Apa lagi Umar berkegiatan di sekolah ini sejak ia masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar. Sekarang Umar telah berada di bangku kelas 1 SMK dan berbagai jenis kegiatan di Sekolah Pesisir telah ia ikuti, mulai dari pendidikan baca tulis hingga berbagai kursus keterampilan. Apa yang tidak disadari oleh Umar adalah, masih banyak tempat lain yang membutuhkan pendidikan alternative, tetapi belum ada lembaga yang berdiri disana. Hasilnya pendidikan di daerah tanpa pendidikan alternative berjalan apa adanya dan setara dengan pendidikan-pendidikan lain.

Saya jadi teringat ditahun 2005 silam, ketika pertama kali bergabung dengan Sekolah Pesisir. Waktu itu beberapa peserta didik kami mendapat beasiswa enam tahun penuh di sekolah dasar yang diberikan oleh perusahaan TELKOMSEL. Waktu itu pada tahun 2005, pemerintah belum memiliki program beasiswa penuh kepada anak-anak di sekolah formal, jadi wajar kalau kami mengklaim kalau program ini adalah ciptaan kami. Namun yang dibutuhkan bukan sekedar beasiswa, ternyata beasiswa tidak menjadi jawaban satu-satunya permasalahan pendidikan kita. Terbukti pada saat itu kami sangat kesusahan mendorong para orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah formal. Alasannya sangat sederhana, “jika kamu menyekolahkan anakku, kamu harus mengganti uang yang seharusnya dihasilkan ketika ia tidak bersekolah”. Ini adalah pemikiran sebagian besar warga Mariso pada saat itu. Saya tidak pernah menyalahkan jika mereka berfikir demikian, tetapi yang selalu saya yakini adalah mereka belum terlalu memahami tentang pentingnya pendidikan dalam kompetisi strata sosial. Ada informasi terputus ketika mereka semestinya perlu tahu apa tujuan dari pendidikan.

Setelah berjalan kurang lebih tujuh tahun, pemikiran-pemikiran seperti dulu itu telah berubah. Sekarang hampir semua anak usia sekolah dasar telah duduk di bangku sekolah formal. Kampanye pendidikan yang selalu kami galakkan ternyata tidak sia-sia. Berbaur dengan warga, duduk bercerita dan sebagainya adalah bentuk kampanye kami. Namun apakah kami berhasil dalam hal ini? Jika pertanyaan ini ditujukan untuk pemerintah jawabannya tentu saja tidak! Dalam hal ini, yang dianggap berhasil adalah program dana BOS dari pemerintah, atau mungkin bisa jadi program tim sukses parpol yang datang setiap musim kampanye. Lalu apakah pemerintah perlu tahu tentang apa yang telah kami lakukan? Ini bukan pekerjaan kami, melainkan pekerjaan orang-orang yang berjejaring dan yang peduli dengan kami. Mengapa? Ada hal janggal dari hati ketika kami harus membeberkan semua yang telah kami lakukan, entah mungkin karena menjadi relawan berhubungan dengan perasaan; perasaan peduli terhadap sesama, sehingga sulit untuk dijelaskan. Bahkan, kami tidak pernah mengungkit semua pengorbanan kami kepada peserta kegiatan, biarkan mereka menilai apa yang telah kami lakukan.

Murninya untuk seorang relawan menurut saya, terutama relawan pendidikan, adalah orang lain tidak perlu memuji apa yang telah dilakukan. Seperti yang dikatakan oleh Umar bahwa apa yang kami lakukan ini biasa-biasa saja. Lantas mengapa orang suka memuji? Mungkin ini yang perlu saya jelaskan kepada Umar bahwa banyak orang yang ingin menjadi relawan atau berkegiatan seperti kita, tetapi mereka tidak memiliki kesempatan itu. Ada juga orang yang sangat ingin menjadi relawan, tetapi tidak memiliki kemampuan sebagai seorang relawan. Parahnya lagi ada orang yang belum tahu apa itu relawan, sehigga mereka sangat terkagum-kagum mendengar cerita kita. Lalu, orang yang datang itu senang melihat kita karena mereka juga relawan, jadi mereka tahu apa yang telah kita lakukan, bahkan bisa merasakan seperti apa jadinya ketika kita menjadi relawan.

Bagi teman-teman yang ingin menjadi relawan di Sokola Pesisir, pintu sekolah kami terbuka lebar untuk kalian semua. Bagi kami, ilmu apapun sangat berguna untuk anak-anak dan remaja di kawasan Mariso ini. It is not what we give, but what we share…

Juga, terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu Sekolah Pesisir dan berpartisipasi disetiap kegiatan kami.

salam dari saya

-habibi-

One thought on “Catatan: Tentang Relawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s