Waktunya Kita Bercerita

Kabar mengenai Sokola Pesisir Mariso yang mesti segera pindah pada bulan Mei 2012 tak pelak juga membuat anak-anak dan remaja yang sering berkegiatan, belajar dan bermain di Sokola Pesisir menjadi kaget dan khawatir bila Sokola Pesisir harus berhenti begitu saja. Beberapa dari mereka kerap bertanya rencana Sokola kedepan. Kelompok belajar film dan fotografi segera membuat semacam film pendek tentang kegiatan belajar di Sokola dan pandangan masyarakat Mariso tentang apa yang telah dilakukan oleh Sokola Pesisir. Kelompok kerajinan juga memproduksi dengan jumlah cukup banyak untuk kegiatan aksi penggalangan dana untuk Sokola Pesisir.

(kelompok film/fotografi sedang mewawancarai penduduk Mariso)

Berikut ini 2 catatan kecil dari anak-remaja dampingan Sokola Pesisir di Kampung Mariso :

Rifki, murid Sokola Pesisir Mariso

Sokola itu sudah seperti rumah kami. Di Sokola, saya dan teman-teman semua sudah seperti saudara, susah senang dijalani bersama. Disini kami belajar banyak hal. Sejak SD, saya sudah sering bermain di Sokola. Bahkan sejak SD pula saya sudah mulai belajar mengoperasikan komputer, membuat film, tahu teknik fotografi dan juga membuat kerajinan. Itu semua saya pelajari di Sokola. Kegiatan itu membantu kami untuk lebih mandiri dalam berusaha untuk menambah penghasilan keluarga. Ada banyak kakak-kakak yang membantu kami belajar di Sokola. Dengan mereka pun kami seperti teman. Suasana belajarnya pun tidak membosankan. Kami seperti bermain saja tetapi ilmu yang mereka berikan bisa kami serap dengan baik. Saya senang sekali, meskipun tinggal di kawasan pesisir tetapi saya juga punya kesempatan belajar banyak hal yang membuat saya hingga sekarang memiliki wawasan yang luas. Selama ini, kami merasa tidak pernah sia-sia belajar disini. Waktu luang kami juga tidak terbuang sia-sia. Makanya, saya akan kecewa sekali jika Sokola harus berhenti. Dimana lagi saya, teman-teman dan adik-adik kami selanjutnya akan belajar dan bermain bersama?

(suasana kelas komputer)

Ana, murid dan guru mengaji di Sokola Pesisir Mariso

Nama saya Ana. Sekarang saya di Sokola mengajar anak-anak kecil mengaji. Dari masih kecil hingga sekarang saya masih tetap belajar di Sokola. Setiap pulang sekolah, saya pasti ke Sokola lagi, saya merasa lebih senang di Sokola. Di Sokola saya mempunyai banyak teman dan guru-guru yang memiliki kepribadian yang berbeda. Ada yang suka mo’jo’ (ngambek, -red), ada yang pintar, ada yang baik dan lucu. Guru-guru di Sokola selalu mengerti dan tetap baik meskipun kami terkadang sangat nakal. Sering juga kami bertengkar gara-gara masalah kecil dan tidak lama kemudian kami akan baikan lagi. Kami merasa sudah seperti saudara. Berkat Sokola pula saya bisa ikut banyak kegiatan dan sekarang ini juga sedang ikut dengan Kompas Muda. Semenjak ada kabar Sokola akan dipindahkan, kami berusaha membuat kerajinan yang banyak agar nantinya kami bisa membantu guru-guru kami mendapatkan dana untuk tempat Sokola kami yang baru. Saya juga berterima kasih kepada warga Mariso yang banyak mendukung dan membantu kami di Sokola. Semoga Sokola Pesisir Mariso tetap ada sehingga kami bisa terus bermain dan belajar bersama. 

(suasana anak-anak Mariso belajar mengaji)

Kami semua berharap, Sokola Pesisir Mariso bisa terus menemani anak-anak dan remaja Mariso dan segera bisa menempati sekolah yang baru secepatnya.

Tetap semangat dan berkarya !

Advertisements

Catatan: Tentang Relawan

Mengapa banyak orang orang yang terkagum-kagum melihat kita? Seolah-olah kita telah melakukan hal yang sangat luar biasa, padahal kita berkegiatan biasa-biasa saja. Memangnya apa yang telah kita lakukan? Lalu, mengapa mereka menganggap yang kita lakukan ini hal yang luar biasa? Dan mengapa mereka sangat senang mendengar cerita dari kita?

Pertanyaan beruntun ini muncul dari mulut Umar, seorang peserta didik dari Sekolah Pesisir. Hari itu kami mendapat kunjungan dari seorang teman. Ya,, kunjungan dari teman atau komunitas lain adalah motifasi tersendiri bagi keberlangsungan belajar mengajar di Sekolah Pesisir. Umar yang sekarang ini menjadi kader pengajar di Sekolah Pesisir tidak sadar bahwa dirinya adalah salah satu orang yang memilki kesempatan spesial. Kesempatan spesial karena ada lembaga pendidikan alternative yang berdiri di sekitar pemukimannya. Apa lagi Umar berkegiatan di sekolah ini sejak ia masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar. Sekarang Umar telah berada di bangku kelas 1 SMK dan berbagai jenis kegiatan di Sekolah Pesisir telah ia ikuti, mulai dari pendidikan baca tulis hingga berbagai kursus keterampilan. Apa yang tidak disadari oleh Umar adalah, masih banyak tempat lain yang membutuhkan pendidikan alternative, tetapi belum ada lembaga yang berdiri disana. Hasilnya pendidikan di daerah tanpa pendidikan alternative berjalan apa adanya dan setara dengan pendidikan-pendidikan lain.

Saya jadi teringat ditahun 2005 silam, ketika pertama kali bergabung dengan Sekolah Pesisir. Waktu itu beberapa peserta didik kami mendapat beasiswa enam tahun penuh di sekolah dasar yang diberikan oleh perusahaan TELKOMSEL. Waktu itu pada tahun 2005, pemerintah belum memiliki program beasiswa penuh kepada anak-anak di sekolah formal, jadi wajar kalau kami mengklaim kalau program ini adalah ciptaan kami. Namun yang dibutuhkan bukan sekedar beasiswa, ternyata beasiswa tidak menjadi jawaban satu-satunya permasalahan pendidikan kita. Terbukti pada saat itu kami sangat kesusahan mendorong para orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah formal. Alasannya sangat sederhana, “jika kamu menyekolahkan anakku, kamu harus mengganti uang yang seharusnya dihasilkan ketika ia tidak bersekolah”. Ini adalah pemikiran sebagian besar warga Mariso pada saat itu. Saya tidak pernah menyalahkan jika mereka berfikir demikian, tetapi yang selalu saya yakini adalah mereka belum terlalu memahami tentang pentingnya pendidikan dalam kompetisi strata sosial. Ada informasi terputus ketika mereka semestinya perlu tahu apa tujuan dari pendidikan.

Setelah berjalan kurang lebih tujuh tahun, pemikiran-pemikiran seperti dulu itu telah berubah. Sekarang hampir semua anak usia sekolah dasar telah duduk di bangku sekolah formal. Kampanye pendidikan yang selalu kami galakkan ternyata tidak sia-sia. Berbaur dengan warga, duduk bercerita dan sebagainya adalah bentuk kampanye kami. Namun apakah kami berhasil dalam hal ini? Jika pertanyaan ini ditujukan untuk pemerintah jawabannya tentu saja tidak! Dalam hal ini, yang dianggap berhasil adalah program dana BOS dari pemerintah, atau mungkin bisa jadi program tim sukses parpol yang datang setiap musim kampanye. Lalu apakah pemerintah perlu tahu tentang apa yang telah kami lakukan? Ini bukan pekerjaan kami, melainkan pekerjaan orang-orang yang berjejaring dan yang peduli dengan kami. Mengapa? Ada hal janggal dari hati ketika kami harus membeberkan semua yang telah kami lakukan, entah mungkin karena menjadi relawan berhubungan dengan perasaan; perasaan peduli terhadap sesama, sehingga sulit untuk dijelaskan. Bahkan, kami tidak pernah mengungkit semua pengorbanan kami kepada peserta kegiatan, biarkan mereka menilai apa yang telah kami lakukan.

Murninya untuk seorang relawan menurut saya, terutama relawan pendidikan, adalah orang lain tidak perlu memuji apa yang telah dilakukan. Seperti yang dikatakan oleh Umar bahwa apa yang kami lakukan ini biasa-biasa saja. Lantas mengapa orang suka memuji? Mungkin ini yang perlu saya jelaskan kepada Umar bahwa banyak orang yang ingin menjadi relawan atau berkegiatan seperti kita, tetapi mereka tidak memiliki kesempatan itu. Ada juga orang yang sangat ingin menjadi relawan, tetapi tidak memiliki kemampuan sebagai seorang relawan. Parahnya lagi ada orang yang belum tahu apa itu relawan, sehigga mereka sangat terkagum-kagum mendengar cerita kita. Lalu, orang yang datang itu senang melihat kita karena mereka juga relawan, jadi mereka tahu apa yang telah kita lakukan, bahkan bisa merasakan seperti apa jadinya ketika kita menjadi relawan.

Bagi teman-teman yang ingin menjadi relawan di Sokola Pesisir, pintu sekolah kami terbuka lebar untuk kalian semua. Bagi kami, ilmu apapun sangat berguna untuk anak-anak dan remaja di kawasan Mariso ini. It is not what we give, but what we share…

Juga, terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu Sekolah Pesisir dan berpartisipasi disetiap kegiatan kami.

salam dari saya

-habibi-

Sekolah Pascabencana

Relawan Sokola tinggal di lokasi bencana di tengah-tengah komunitas yang menjadi korban, melihat dan mengenal persoalan lebih dekat. Bersama-sama dengan komunitas membangun lagi kehidupan.

1. Aceh
Menanggapi bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh, Sokola membuka shelter bagi anak-anak dan melakukan pendampingan psikologis. Kegiatan ini berlangsung pada Januari-Mei 2005 di kamp pengungsian Desa Neuheun yang menampung sekitar 400 pengungsi.

Sejak Juni 2005, relawan Sokola mendampingi 538 jiwa yang tersisa dari sekitar 1500 jiwa penduduk Ujung Muloh, Aceh Jaya. Selain memberikan asistensi administrasi desa, Sokola juga mendampingi 40 anak menghadapi perubahan lingkungan tempat hidup mereka, memberikan pelatihan ketrampilan sablon, menjahit dan kerajinan kerang serta kewirausahaan bagi pemuda dan orang tua tunggal korban tsunami. Sokola juga menyalurkan pinjaman modal bagi nelayan dari Yayasan Danamon Peduli. Mulai 2006, kegiatan yang sama dilakukan di dua desa sekitar Ujung Muloh, yaitu Teumareum dan Kuala dengan dukungan dari Bernard van Leer Foundation Netherland. Sokola mendampingi anak-anak Aceh menghadapi situasi baru pasca bencana. Sementara para orang tua sibuk membersihkan puing dan menata tempat tinggal, anak-anak berkegiatan bersama Sokola di Omah Bocah.

2. Yogyakarta
Sokola membuka shelter anak bernama “Omah Bocah” di dusun Gunung Puyuh, Bantul, Yogyakarta sebagai tempat bermain anak-anak yang hilang akibat bencana gempa bumi. Selain itu, Sokola juga menyalurkan bantuan peralatan sekolah, peralatan pertukangan dan memberikan pelayanan kesehatan bagi 510 orang warga dusun. Program didukung oleh PT. Nu Skin, PT. Trikomsel, Rakata Adventure dan donator individu serta melibatkan sekitar 20 orang sukarelawan.

3. Klaten
Sokola membantu pemulihan kegiatan belajar di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Karangdowo, Klaten dengan bantuan pembangunan kembali gedung sekolah yang hancur akibat gempa bumi 27 Mei 2006 dan pendampingan siswa sekolah melalui program “Sokola Ijo”. Bangunan sekolah yang didirikan dengan struktur tahan gempa ini didukung oleh PT. Nu Skin Enterprises Indonesia dan diresmikan pada Juni 2007 setelah enam bulan masa pengerjaan.

4. Kampung Dukuh
Desa adat Dukuh, Garut, Jawa Barat musnah seketika dalam musibah kebakaran, Oktober 2006. 40 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke desa tetangga sembari membangun kembali rumah-rumah adapt yang menjadi cirri khas komunitasnya. Dengan dukunga PT. Trikomsel, Sokola menyalurkan bantuan pembangunan fasilitas desa dan membantu pemulihan langgar sebagai pusat aktivitas komunitas.

Sekolah Kehidupan

Sekolah Literasi

Sokola mengembangkan metode dan kurikulum belajar yang disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan komunitasnya, dengan demikian sekolah dapat terintegrasi dengan kehidupan nyata sehari-hari komunitas.

1. Jambi
Berawal dari fasilitasi baca-tulis-hitung yang telah dirintis sejak tahun 1999 di komunitas Orang Rimba. Sejak ditangani oleh Sokola tahun 2004, kurikulumnya berkembang sesuai tuntutan perubahan lingkungan tempat hidup mereka, diantaranya pertanian sederhana, pendidikan kesehatan serta pendidikan advokasi. Didukung antara Global Environment Facilities – Small Grant Program, Terre des Homes Germany dan British Embassy.

2. Makassar
Program literasi bagi komunitas kampung miskin di pesisir kota dimulai sejak Januari 2005. Di dukung oleh PT. Pertamina, kini sekolah pesisir telah menjadi tempat belajar bagi 170 murid yang berasal dari 3 kampung di kecamatan Mariso, Makassar. 24 di antaranya kini melanjutkan pendidikan di sekolah formal, terdiri dari 21 anak dengan beasiswa Telkomsel Makassar dan 3 anak dengan pembiayaan dari individu.

Selain pendidikan literasi, sekolah pesisir juga memberi pelatihan kerajinan kerang dan mozaik keramik, komputer serta menyelenggarakan TK/playgroup yang mendapatkan sertifikasi kelulusan dari Departemen Pendidikan Nasional. Program ini didukung pula oleh Australian Embassy.

3. Flores
90% penduduk Desa Wailago, Pulau Besar, Flores, buta huruf. Tidak ada fasilitas pendidikan di desa yang terkena tsunami sejak tahun 1992 ini. Sokola mulai berkegiatan di pulau ini sejak Juni 2006 dengan dukungan PT. Trikomsel dan bantuan bangunan rumah sekolah dari PT. Nu Skin di mana 97 murid tengah berupaya membebaskan diri dari buta huruf.

4. Bulukumba
Program baca-tulis-hitung bagi komunitas adat Tana Toa, Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Program dirintis pada Maret 2007, dan mulai berjalan Agustus 2007.

5. Halmahera
Sokola bekerja sama dengan LSM Pilas Ternate, menyelenggarakan program literasi dasar bagi suku Tayawi yang tinggal di kawasan hutan bagian selatan pulau Halmahera, Kabupaten Tidore Kepulauan. Pengetahuan literasi menjadi bekal untuk berhubungan dengan dunia luar. Assessment yang dilakukan pada bulan Juni-Juli 2007 dengan dukungan PT. Trikomsel. Program dimulai Agustus 2007.

Visi dan Misi Rumah Sokola

Pada pertengahan tahun 2008 Sokola telah menjangkau delapan provinsi di Indonesia, memiliki 1000 peserta belajar dengan dukungan dari relawan-relawan di seluruh Indonesia.

Strategi program Rumah Sokola meliputi :
1. Grounded Research. Untuk menemukan kebutuhan dan mendalami persoalan dari sudut pandang komunitas.
2. Metode Praktis Baca-Tulis-Hitung. Pengetahuan literasi dasar yang dapat diketahui dalam waktu relatif singkat.
3. Penguatan Komunitas. Pelibatan komunitas dalam kegiatan pendidikan, pembentukan kader, dewan adat sekolah, dan rumah sokola sebagai community center.
4. Volunteer dan Kerabat. Dukungan publik bagi kelangsungan program-program pendidikan Sokola.

Visi Rumah Sokola adalah sekolah untuk kehidupan

Misi Rumah Sokola adalah mengembangkan pendidikan alternatif bagi komunitas-komunitas marjinal untuk menghadapi perubahan yang terjadi di tempat hidup mereka tanpa meninggalkan tradisi dan budaya yang diyakininya.

Metode Belajar Rumah Sokola meliputi :
1. Penguasaan fonologi dan silabel. Penguasaan baca-tulis dimulai dari penguasaan bunyi sebelum mempelajari bentuk hurufnya. Tahap berikutnya adalah mempelajari 16 variasi pola ejaan yang terdiri dari vokal, konsonan, dan diftong.
2. Intensitas belajar. Dengan tinggal di tengah-tengah komunitas, fasilitator Sokola mengetahui situasi dan kondisi setiap peserta belajarnya dengan baik. Waktu belajar menjadi efektif karena dapat mengikuti mood setiap orang dan disesuaikan dengan rutinitas hariannya.

Sejarah Rumah Sokola

Sokola adalah sebuah lembaga independen yang memfokuskan diri untuk memfasilitasi sebuah pendidikan alternatif dengan masyarakat pribumi yang ada di Indonesia. Kebanyakan dari masyarakat ini hidup dengan menggantungkan diri pada hasil alam atau hasil laut dan memiliki keterbatasan untuk mengakses pendidikan yang diberikan oleh pemerintah disebabkan oleh nilai-nilai kultural, lokasi yang terisolir maupun sedang berada dalam kondisi krisis. Dalam bahasa Rimba, Sokola berarti sekolah atau belajar dan dapat juga berarti pendidikan.

Sokola didirikan oleh enam orang yang pada awalnya bekerja untuk sebuah lembaga konservasi bernama WARSI dan sebagai bagian dari proyek “Habitat dan Manajemen Sumber Daya Alam untuk Orang Rimba” di Taman Nasional Bukit Duabelas di Jambi. Orang Rimba adalah masyarakat yang hidup sangat berpindah-pindah di dalam hutan hujan dan hidup dengan cara berburu di hutan, menggali umbi-umbian dan pertanian sederhana. Mereka hidup dengan kebiasaan tradisional serta kepercayaan yang diturunkan dari nenek moyang.

Berdasarkan keyakinan mereka, jalan hidup ini tergantung kepada bagaimana menjaga kemurnian dari kebiasaan mereka dan melindunginya dari dunia luar. Hal ini menjadi semakin sulit sekarang. Selama 30 tahun belakangan ini, hutan dan cara hidup tradisional mereka mendapat banyak tekanan, mulai dari pembalakan hutan, transmigrasi, dan juga pembukaan hutan untuk lahan pohon kelapa sawit. Dari tahun 1998 sampai 2004, anggota Sokola tergabung dalam menyediakan basis pendidikan untuk komunitas Orang Rimba, mencakup penyediaan layanan kesehatan, hukum, advokasi, untuk mendukung tujuan WARSI tentang konservasi hutan.
Continue reading