Berdirinya Sokola Pesisir Kami yang Baru

Colin Powell mengatakan : “ A dream doesn’t become reality through magic; it takes sweat, determination and hard work “. Bagi kami, masih ada lagi yang membuat mimpi ini menjadi kenyataan. Tentunya adalah sebagian besar berkat dukungan dan bantuan dari anda semua.

Masih terbayang sekitar 2 tahun yang lalu ketika kami mendapat kabar harus segera pindah dari Balla Pappilajarang. Kami saat itu tak yakin apakah bisa melanjutkan apa yang telah dilakukan sejak tahun 2004 bersama Sokola Pesisir Mariso. Namun, berkat dukungan, simpati dan bantuan dari sahabat-sahabat Sokola Pesisir membuat apa yang mungkin saat itu hanya impian akhirnya bisa terwujud.

Mengecat dan mempersiapkan Sokola yang baru

Mengecat dan mempersiapkan Sokola yang baru

Ya benar. Sekolah baru kami telah berdiri kokoh dan murid-murid TK kami sudah belajar di sana sejak tanggal 19 Agustus 2013. Satu persatu anak-anak berbaris dan memasuki ruangan sekolah baru mereka dengan muka sumringah. Para guru juga terlihat ceria menerima salam dari murid-murid. Semangat menyala di tempat yang baru. Sebelumnya, murid-murid dan remaja kami harus berdesak-desakan di kontrakan kecil yang menemani selama proses pembangunan. Tahun ajaran baru ini kami mulai dengan menempati Balla Pappilajarang baru yang berdiri tak jauh dari sekolah lama.

Sokola Pesisir Mariso dari Depan

Sokola Pesisir Mariso dari Depan

Balla Pappilajarang yang Baru

Balla Pappilajarang yang Baru

Murid TK Sokola Pesisir di sekolah yang baru

Murid TK Sokola Pesisir di sekolah yang baru

Bermain bersama

Bermain bersama

Tak terhingga perasaan bahagia dan haru menyeruak di hati kami. Selama kurun waktu 2 tahun ternyata kami tak sendirian berjuang memiliki sekolah baru. Ada saja sahabat dan bahkan yang tak kami kenalpun membantu kami mulai dari bantuan fisik, material hingga dukungan yang sungguh tak bisa kami balas satu persatu. Malahan, ketika pembangunan sempat tersendat, tak kami sangka ada sahabat baik yang tanpa banyak bicara membantu kami menyelesaikan yang tertunda. Kami percaya, setiap doa, bantuan dan dukungan yang para sahabat Sokola Pesisir Mariso berikan selama ini akan mendapat berkah dan balasan yang berlimpah dari Allah SWT.

Ruangan di Sokola Pesisir

Ruangan di Sokola Pesisir

Sekarang, kami memiliki sekitar 32 murid TK, 30 anak usia SD yang ikut kelas mengaji dan sekitar 10 remaja yang terlibat dalam kelas kreatif mandiri (usaha sablon, foto dan film, salon, buat kue dsb). Ini tak termasuk dampingan anak dan remaja dari sekitaran Mariso yang sering mengikuti kegiatan insidentil seperti kelas komputer, kerajinan tangan dll. Jumlah guru kami saat ini sekitar 7 orang dan 3 orang kader yang mengajar di TK dan kelas Mengaji. Relawan mandiri kami pun ada beberapa yang bergantian membantu kami mengisi kegiatan positif untuk anak-anak dan remaja. Bahkan Sokola Pesisir Mariso sudah beberapa kali pula ketempatan relawan dari Jepang yang berbagi budaya dan ketrampilannya dengan kami. Kami juga terbuka untuk relawan dari Makassar dan mana saja yang ingin membagi ilmu dan ketrampilannya kepada anak-anak dan remaja Mariso.

Kelas Kreatif Mandiri

Kelas Kreatif Mandiri

Kelas Kreatif Mandiri

Kelas Kreatif Mandiri

Sekali lagi, kami atas nama Sokola Pesisir Mariso dan masyarakat Mariso mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada para donatur, sahabat, pemerintah setempat, tokoh masyarakat Mariso dan semua pihak yang telah bersama-sama turut membantu kami mewujudkan impian untuk memiliki Balla Pappilajarang yang baru, tempat dimana kami belajar bahwa selalu ada harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dan remaja Mariso. Seperti kata Paulo Coelho, “ketika kamu menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan berkonspirasi untuk membantumu meraihnya “.Sokola Pesisir Mariso bukan hanya milik masyarakat Mariso saja tetapi milik kita semua. Terima kasih telah membantu kami dan membuat kami percaya bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini apabila kita berniat baik dan bersungguh-sungguh. (@AM)

Sekolah Pascabencana

Relawan Sokola tinggal di lokasi bencana di tengah-tengah komunitas yang menjadi korban, melihat dan mengenal persoalan lebih dekat. Bersama-sama dengan komunitas membangun lagi kehidupan.

1. Aceh
Menanggapi bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh, Sokola membuka shelter bagi anak-anak dan melakukan pendampingan psikologis. Kegiatan ini berlangsung pada Januari-Mei 2005 di kamp pengungsian Desa Neuheun yang menampung sekitar 400 pengungsi.

Sejak Juni 2005, relawan Sokola mendampingi 538 jiwa yang tersisa dari sekitar 1500 jiwa penduduk Ujung Muloh, Aceh Jaya. Selain memberikan asistensi administrasi desa, Sokola juga mendampingi 40 anak menghadapi perubahan lingkungan tempat hidup mereka, memberikan pelatihan ketrampilan sablon, menjahit dan kerajinan kerang serta kewirausahaan bagi pemuda dan orang tua tunggal korban tsunami. Sokola juga menyalurkan pinjaman modal bagi nelayan dari Yayasan Danamon Peduli. Mulai 2006, kegiatan yang sama dilakukan di dua desa sekitar Ujung Muloh, yaitu Teumareum dan Kuala dengan dukungan dari Bernard van Leer Foundation Netherland. Sokola mendampingi anak-anak Aceh menghadapi situasi baru pasca bencana. Sementara para orang tua sibuk membersihkan puing dan menata tempat tinggal, anak-anak berkegiatan bersama Sokola di Omah Bocah.

2. Yogyakarta
Sokola membuka shelter anak bernama “Omah Bocah” di dusun Gunung Puyuh, Bantul, Yogyakarta sebagai tempat bermain anak-anak yang hilang akibat bencana gempa bumi. Selain itu, Sokola juga menyalurkan bantuan peralatan sekolah, peralatan pertukangan dan memberikan pelayanan kesehatan bagi 510 orang warga dusun. Program didukung oleh PT. Nu Skin, PT. Trikomsel, Rakata Adventure dan donator individu serta melibatkan sekitar 20 orang sukarelawan.

3. Klaten
Sokola membantu pemulihan kegiatan belajar di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Karangdowo, Klaten dengan bantuan pembangunan kembali gedung sekolah yang hancur akibat gempa bumi 27 Mei 2006 dan pendampingan siswa sekolah melalui program “Sokola Ijo”. Bangunan sekolah yang didirikan dengan struktur tahan gempa ini didukung oleh PT. Nu Skin Enterprises Indonesia dan diresmikan pada Juni 2007 setelah enam bulan masa pengerjaan.

4. Kampung Dukuh
Desa adat Dukuh, Garut, Jawa Barat musnah seketika dalam musibah kebakaran, Oktober 2006. 40 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke desa tetangga sembari membangun kembali rumah-rumah adapt yang menjadi cirri khas komunitasnya. Dengan dukunga PT. Trikomsel, Sokola menyalurkan bantuan pembangunan fasilitas desa dan membantu pemulihan langgar sebagai pusat aktivitas komunitas.

Sekolah Kehidupan

Sekolah Literasi

Sokola mengembangkan metode dan kurikulum belajar yang disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan komunitasnya, dengan demikian sekolah dapat terintegrasi dengan kehidupan nyata sehari-hari komunitas.

1. Jambi
Berawal dari fasilitasi baca-tulis-hitung yang telah dirintis sejak tahun 1999 di komunitas Orang Rimba. Sejak ditangani oleh Sokola tahun 2004, kurikulumnya berkembang sesuai tuntutan perubahan lingkungan tempat hidup mereka, diantaranya pertanian sederhana, pendidikan kesehatan serta pendidikan advokasi. Didukung antara Global Environment Facilities – Small Grant Program, Terre des Homes Germany dan British Embassy.

2. Makassar
Program literasi bagi komunitas kampung miskin di pesisir kota dimulai sejak Januari 2005. Di dukung oleh PT. Pertamina, kini sekolah pesisir telah menjadi tempat belajar bagi 170 murid yang berasal dari 3 kampung di kecamatan Mariso, Makassar. 24 di antaranya kini melanjutkan pendidikan di sekolah formal, terdiri dari 21 anak dengan beasiswa Telkomsel Makassar dan 3 anak dengan pembiayaan dari individu.

Selain pendidikan literasi, sekolah pesisir juga memberi pelatihan kerajinan kerang dan mozaik keramik, komputer serta menyelenggarakan TK/playgroup yang mendapatkan sertifikasi kelulusan dari Departemen Pendidikan Nasional. Program ini didukung pula oleh Australian Embassy.

3. Flores
90% penduduk Desa Wailago, Pulau Besar, Flores, buta huruf. Tidak ada fasilitas pendidikan di desa yang terkena tsunami sejak tahun 1992 ini. Sokola mulai berkegiatan di pulau ini sejak Juni 2006 dengan dukungan PT. Trikomsel dan bantuan bangunan rumah sekolah dari PT. Nu Skin di mana 97 murid tengah berupaya membebaskan diri dari buta huruf.

4. Bulukumba
Program baca-tulis-hitung bagi komunitas adat Tana Toa, Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Program dirintis pada Maret 2007, dan mulai berjalan Agustus 2007.

5. Halmahera
Sokola bekerja sama dengan LSM Pilas Ternate, menyelenggarakan program literasi dasar bagi suku Tayawi yang tinggal di kawasan hutan bagian selatan pulau Halmahera, Kabupaten Tidore Kepulauan. Pengetahuan literasi menjadi bekal untuk berhubungan dengan dunia luar. Assessment yang dilakukan pada bulan Juni-Juli 2007 dengan dukungan PT. Trikomsel. Program dimulai Agustus 2007.

Visi dan Misi Rumah Sokola

Pada pertengahan tahun 2008 Sokola telah menjangkau delapan provinsi di Indonesia, memiliki 1000 peserta belajar dengan dukungan dari relawan-relawan di seluruh Indonesia.

Strategi program Rumah Sokola meliputi :
1. Grounded Research. Untuk menemukan kebutuhan dan mendalami persoalan dari sudut pandang komunitas.
2. Metode Praktis Baca-Tulis-Hitung. Pengetahuan literasi dasar yang dapat diketahui dalam waktu relatif singkat.
3. Penguatan Komunitas. Pelibatan komunitas dalam kegiatan pendidikan, pembentukan kader, dewan adat sekolah, dan rumah sokola sebagai community center.
4. Volunteer dan Kerabat. Dukungan publik bagi kelangsungan program-program pendidikan Sokola.

Visi Rumah Sokola adalah sekolah untuk kehidupan

Misi Rumah Sokola adalah mengembangkan pendidikan alternatif bagi komunitas-komunitas marjinal untuk menghadapi perubahan yang terjadi di tempat hidup mereka tanpa meninggalkan tradisi dan budaya yang diyakininya.

Metode Belajar Rumah Sokola meliputi :
1. Penguasaan fonologi dan silabel. Penguasaan baca-tulis dimulai dari penguasaan bunyi sebelum mempelajari bentuk hurufnya. Tahap berikutnya adalah mempelajari 16 variasi pola ejaan yang terdiri dari vokal, konsonan, dan diftong.
2. Intensitas belajar. Dengan tinggal di tengah-tengah komunitas, fasilitator Sokola mengetahui situasi dan kondisi setiap peserta belajarnya dengan baik. Waktu belajar menjadi efektif karena dapat mengikuti mood setiap orang dan disesuaikan dengan rutinitas hariannya.

Sejarah Rumah Sokola

Sokola adalah sebuah lembaga independen yang memfokuskan diri untuk memfasilitasi sebuah pendidikan alternatif dengan masyarakat pribumi yang ada di Indonesia. Kebanyakan dari masyarakat ini hidup dengan menggantungkan diri pada hasil alam atau hasil laut dan memiliki keterbatasan untuk mengakses pendidikan yang diberikan oleh pemerintah disebabkan oleh nilai-nilai kultural, lokasi yang terisolir maupun sedang berada dalam kondisi krisis. Dalam bahasa Rimba, Sokola berarti sekolah atau belajar dan dapat juga berarti pendidikan.

Sokola didirikan oleh enam orang yang pada awalnya bekerja untuk sebuah lembaga konservasi bernama WARSI dan sebagai bagian dari proyek “Habitat dan Manajemen Sumber Daya Alam untuk Orang Rimba” di Taman Nasional Bukit Duabelas di Jambi. Orang Rimba adalah masyarakat yang hidup sangat berpindah-pindah di dalam hutan hujan dan hidup dengan cara berburu di hutan, menggali umbi-umbian dan pertanian sederhana. Mereka hidup dengan kebiasaan tradisional serta kepercayaan yang diturunkan dari nenek moyang.

Berdasarkan keyakinan mereka, jalan hidup ini tergantung kepada bagaimana menjaga kemurnian dari kebiasaan mereka dan melindunginya dari dunia luar. Hal ini menjadi semakin sulit sekarang. Selama 30 tahun belakangan ini, hutan dan cara hidup tradisional mereka mendapat banyak tekanan, mulai dari pembalakan hutan, transmigrasi, dan juga pembukaan hutan untuk lahan pohon kelapa sawit. Dari tahun 1998 sampai 2004, anggota Sokola tergabung dalam menyediakan basis pendidikan untuk komunitas Orang Rimba, mencakup penyediaan layanan kesehatan, hukum, advokasi, untuk mendukung tujuan WARSI tentang konservasi hutan.
Continue reading